Kali ini menulis dalam Bahasa Indonesia. Kenapa? Sejujurnya, semua orang paling suka dengan bahasa negeri sendiri. Begitu pula saya. Sederhana saja. Kembali ke topik yang jadi judul…
Kemarin waktu pulang dari Gramedia, suasananya gelap dan suram dan mendung. Pokoknya misterius dan menyenangkan. Aku naik angkot. Selain aku, yang naik ada 8 orang. Jadilah kami Fellowship of the Angkot, yang terdiri dari 3 orang anak SMP yang ribut, 1 orang bapak berjas, agak tua, sepasang suami-istri yang terlihat biasa-biasa saja, mbak berambut panjang, dan si supirnya tentu.
G berapa lama, bapak berjas mengajak bicara si suami. Dia bertanya, “Bapak asli mana?”
“Oh kami dari Indramayu”
“Disini lagi kerja?”
“Bukan, lagi berobat”
“Siapa yang sakit?”
“Istri saya”
“Penyakit apa?”
Sampai detik ini aku g terlalu perhatian sama mereka.
“GANGGUAN JIWA”
Kuharap mereka tidak melihat dilatasi pupil saya yang tampak kentara, atau otot muka yang tertarik ke atas membentuk senyuman samar. Jeritan sih bisa kutahan. Di kepalaku langsung muncul serentetan kata-kata…
“Kepribadian ganda? Depresi? Mania? Bipolar? Skizofrenia?” dan sebagainya.
Sayangnya percakapan tidak berlanjut dengan deskripsi penyakit. Bapak berjas itu malah menganjurkan berbagai resep nenek moyangnya. Tapi melihat ibu-ibu yang (katanya) sakit itu tampak normal dan tenang, kuduga penyakitnya pasti dari jenis yang keren.
Dulu menurutku penyakit jiwa ada 2 kategori, yang keren dan g keren. Yang g keren itu misalnya yang suka teriak-teriak, rambut gondrong, nari, g pakai baju. Lalu yang keren itu yang kelihatan normal, malah bisa aja jenius, tapi pikiran dia terganggu (misal mendengar atau melihat sesuatu). Contohnya John Nash dalam A Beautiful Mind.
Itu pikiranku dulu.
Sekarang aku tau, bahwa pembagiannya g sesederhana itu. Yang g keren itu adalah fase akut dari suatu penyakit yang keren sebagai fase kronisnya. Jadi yang keren-keren kayak skizo bisa aja tiba-tiba teriak-teriak. Tapi memang ada yang murni g keren, yaitu depresi. Bahkan untuk aku yang penggemar gangguan jiwa (gemar topiknya, tidak gemar mengalami) depresi itu sangat menyebalkan. Aku g suka orang depresi, kecuali kalau depresi karena cobaan yang memang berat banget aku maklum lah. Tapi sekarang banyak orang yang depresi gara-gara hal sepele, menurutku mereka itu g tahu bersyukur jadi menyebalkan.
Maaf OOT, jadi kesimpulannya berita di Pikiran Rakyat di suatu hari di bulan November 2009 tentang meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa di Jawa Barat benar adanya. Soalnya selain kejadian di angkot itu, aku lihat di bulan-bulan terakhir 2009, Rumah Sakit Jiwa di Jalan Riau juga penuh dan ramai. Sekian
